Selasa, 19 Maret 2013

Terpilihnya Orang Bodoh Menjadi Pemimpin Merupakan Tanda Kiamat



Imam Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Hudzaifah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

لا تقوم الساعة حتى يكون أسعد الناس بالدنيا لكع بن لكع
"Hari kiamat tidak terjadi hingga manusia yang paling bahagia di dunia ialah Luka' bin Luka'."
(Diriwayatkan Imam Ahmad 5/389 dan At-Tirmidzi hadits no.2209 yang menghasankannya. Hadits tersebut mempunyai hadits penguat dan menjadi shahih dengannya. Baca hadits tersebut di Ibnu Hibban hadits no.6721).Ibnu Al-Atsir berkata dalam Nihayah fi Gharibil Hadits 4/268, "Luka' dalam bahasa Arab artinya "budak" kemudian digunakan untuk orang bodoh dan tercela. Untuk orang laki-laki yang bodoh dikatakan luka' dan untuk wanita yang bodoh dikatakan laka'".

Kata tersebut seringkali digunakan dalam kata panggilan yang berarti orang hina. Ada yang mengatakan, artinya kotoran. Kata tersebut juga dimutlakkan dengan arti anak kecil, misalnya disebutkan di hadits bahwa
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang meminta Hasan bin Ali dan bersabda, "Apakah ada luka' (anak kecil) lagi?" Jika kata tersebut digunakan untuk orang dewasa, maka maksudnya ialah orang yang kecil ilmu dan akalnya.

Dalam Shahih Ibnu Hibban disebutkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Dunia tidak habis hingga ada pada Luka' bin Luka'."
(Diriwayatkan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya hadits no.6721 dan sanad hadits tersebut adalah shahih).

Ath-Thabrani meriwayatkan hadits dari Abu Dzar Radluyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Hari Kiamat tidak terjadi hingga yang berkuasa di dunia ialah Luka' bin Luka'."
(Diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Al-Ausath. Al-Haitsami berkata dalam Majmauz Zawaid 7/326, "Para perawi hadits di atas dianggap sebagai para perawi tepercaya dan ada kelemahan pada sebagian dari mereka").

Imam Ahmad dan Ath-Thabrani meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwasannya Nabi bersabda,
"Sebelum Hari kiamat terjadi, terdapat tahun-tahun penipuan; pada tahun-tahun tersebut, orang tepercaya dituduh, orang tertuduh dipercayai, dan arruwaibidhah berbicara". Para sahabat berkata, "Apa ar-ruwaibidhah itu?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Yaitu orang bodoh yang berbicara tentang urusan manusia".
Dalam riwayat lain disebutkan, "Yaitu orang fasik yang berbicara tentang urusan manusia".
Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan, "Sesungguhnya sebelum Dajjal muncul terdapat tahun-tahun penipuan. Pada tahun-tahun tersebut, pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan, orang tepercaya dituduh khianat, dan pengkhianat dipercayai, dan seterusnya seperti riwayat sebelumnya".
(Diriwayatkan Imam Ahmad 3/220, Ath-Thabrani di Al-Ausath, Abu Ya'la hadits no.3715, dan Al-Bazzar hadits no.3373. Sanadnya dianggap baik oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 13/84)

Matan Haditsnya di Musnad Imam Ahmad:

Dalam Mustadrak Imam Al-Hakim:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ» قَالَ ابْنُ قُدَامَةَ: وَحَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ، عَنِ الْمَقْبُرِيِّ، قَالَ: «وَتَشِيعُ فِيهَا الْفَاحِشَةُ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، وَلَمْ يُخْرِجَاهُ.Kesimpulan dari tanda-tanda Hari Kiamat dalam hadits tersebut ialah semua urusan dilimpahkan kepada orang-orang yang bukan ahlinya seperti disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada orang yang bertanya kepada beliau tentang Hari Kiamat,
"Jika urusan dilimpahkan kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah Hari Kiamat".
(Diriwayatkan Al-Bukhari hadits no.59 dan 6496 dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu)

Di hadits lain disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

لا تقوم الساعة حتى يَسُود كل قبيلة منافقوها
"Hari Kiamat tidak terjadi hingga orang-orang munafik setiap kabilah menjadi pemimpin di setiap kabilah".
(Diriwayatkan Ath-Thabrani dan Al-Bazzar hadits no.3416 dari Abu Mas'ud).

Jika raja dan pemimpin manusia seperti itu, seluruh urusan menjadi jungkir-balik. Akibatnya, pembohong dipercayai, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang tepercaya dikhianati, orang bodoh bicara, orang alim diam, atau dilarang bicara secara umum, seperti diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda,

من أشراط الساعة أن يرفع العلم ويظهر الجهل.
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda Hari Kiamat ialah ilmu diangkat dan kebodohan tersebar".
(Dari Anas bin Malik, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits no.80, Muslim hadits no.2671, dan Imam Ahmad 3/98)

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,
"Sesungguhnya ilmu dicabut dengan dicabutnya ulama hingga jika ulama tidak ada yang tersisa maka manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin, kemudian para pemimpin tersebut ditanya, lalu mereka memberi fatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan".
(Dari Abdullah bin Amr, hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad 2/162, 190, Al-Bukhari hadits no.100, 7307, dan Muslim hadits no.2673. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 4571, 6719, dan 6723)

Asy-Sya'bi berkata, "Hari Kiamat tidak terjadi hingga ilmu menjadi kebodohan dan kebodohan menjadi ilmu".

Itu semua karena carut-marutnya segala hal dan jungkir-baliknya semua urusan di akhir zaman.

Dalam Shahih Al-Hakim disebutkan hadits dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhuma secara marfu',

إن من أشراط الساعة أن يوضع الاخيار ويرفع الاشرار.
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda Hari Kiamat ialah orang-orang pilihan direndahkan, sedang orang-orang jahat diangkat".
(Diriwayatkan Al-Hakim di Shahih-nya 4/554-555 dan menshahihkannya dengan disetujui Adz-Dzahabi. Hadits tersebut juga diriwayatkan Ath-Thabrani. Al-Haitsami berkata di Majmauz Zawaid 7/326, "Para perawi hadits tersebut adalah para perawi shahih").

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.