Sabtu, 23 Maret 2013

PKS Spring



 Kesuksesan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam mendulang suara rakyat di tengah badai kini telah usai. Ultimatum Anis Matta saat konsolidasi kader PKS se-Jakarta, Sabtu 9 Maret 2013 menyebutkan bahwa sekarang “PKS dalam tahap take off,”. Telah siap terbang tinggi merampaui batas samudra badai. Fitnah yang ditujukan kepada mantan presiden PKS yaitu LHI tidak membuat para kader se- Indonesia bergeming, barisan tetap rapi dan semakin solid. Para pengamat politik dan kaum intelektual tentu menganggap peristiwa kemenangan Aher – Demiz di Jawa Barat dan Gatot – Erry di Sumatera Utara sebagai gubernur dan wakil gubernur terpilih bukan hal yang kebetulan. Musim semi yang terjadi pada PKS belakangan ini merupakan cambuk bagi pelaku rekayasa politik yang menghalalkan berbagai cara untuk sebuah kedudukan. Bahwa tidak selamanya uang dapat membeli segalanya. Bahasa humanis, sisi- sisi kemanusiaan tidak dapat dibeli dengan materi. Walaupun Gatot Pujo Nugroho merupakan cagub termiskin dari para kandidat lain, namun figur beliau yang incumbent mampu menggaet hati masyarakat.
Menjelang pileg dan pilpres 2014, para partai politik semakin gencar mempromosikan produk yang ditawarkan. Sebagian bergerak hanya dengan kata-kata, sebagian lagi dengan karya nyata. Sebagian yang lainnya dengan kata dan karya. Black campaign terhadap saingan partai politik menunjukkan ketidakdewasaan para politikus negeri ini. Ibarat berulang kali masuk di jurang yang sama, secara bersama pula masyarakat mulai cerdas memilih. Tahun 2014 merupakan penentu, persaingan politik yang semakin alot. Eksistensi figur yang akan dinaikkan mulai merambah dan perlahan mendulang simpati rakyat.

Sepanjang sejarah kemenangan pileg dan pilpres di Indonesia, reting kepercayaan masyarakat kian tahun- kian melemah. Golput seolah menjadi kewajaran, keacuhan para pemimpin terhadap nasib rakyat juga berefect pada keacuhan rakyat enggan berpartisipasi dalam pemilihan. “Untuk apa pilih si pulan kalau hidup kami tetap seperti ini”, begitulah demam rakyat. Yang pasti, sederet 10 parpol yang terpilih verifikasi untuk mengikuti pileg dan pilpres 2014, masih ada mutiara di tengah gundukan sampah.

Kekuatan Figur dan Partai Politik

Pada awal tahun 2013 yang lalu, tayangan mata Najwa pernah menghadirkan beberapa publik figur yang dianggap kapabel dinjadikan calon presiden 2014. Figur yang dihadirkan dalam diskusi ringan tersebut bersifat independen non partai. Diantaranya ada Dahlan Iskandar, Jusuf Kalla dan Abraham Samad. Seiring waktu, nama Jokowi juga mulai familiar mewakili PDIP. Prabowo Sugiarto dari partai Gerindra, Abu Rizal Bakri dari Golkar. Pasca diangkat presiden PKS yang baru yaitu Anis Matta, gaungnya juga semakin menyedot perhatian masyarakat.

Partai politik sangat menentukan kesuksesan figur yang dinaikkan sebagai pemimpin. Pasang surut citra parpol diiingi dengan kinerja yang selama ini dilakukan. Selain demokrat yang semakin terpuruk membenahi kepercayaan masyarakat terhadap berbagai kasus korupsi yang melanda, juga tampil partai baru yaitu Nasdem. Tua atau mudanya sebuah parpol pada hakikatnya belum bisa sepenuhnya menjamin jiwa kepahlawanan yang dimiliki para kader partai.

Antara partai dan figur keduanya saling beriringan. Faktor pemersatu diantara keduanya adalah sebuah ideologi. Latar belakang pemikiran sebuah gerakan partai sangat menentukan arah mau dibawa kemana negeri ini. Jika ideologi yang diusung hanya mewakili satu sisi kehidupan, maka sulit untuk diterima khalayak ramai. Semakin mengakar pelayanan yang diberikan oleh setiap parpol dari setiap sendi kehidupan, maka seluruh lapisan masyarakat secara tidak langsung akan menilai dan menemukan yang terbaik dan layak memimpin negeri.

Ambulance gratis yang kali pertama diprakarsai oleh PKS lalu diikuti oleh parpol yang lain. Tidak hanya sisi kesehatan, dunia pendidikan, ekonomi dan sosial masyarakat perlu disentuh oleh semua parpol yang ingin meng -goal -kan kandidat yang dinaikkan. Akankah spring yang dialami PKS sekarang akan tetap bertahan hingga pileg dan pilpres 2014 mendatang? Benarkah ultimatum Anis Matta bahwa PKS kini sedang take off? Mari kawal 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.