Selasa, 02 April 2013

Belajar Dari Derita Para Nabi



Kadangkala kita bertanya-tanya mengapa Allah SWT. memberikan ujian pada setiap manusia tak terkecuali para Nabi. Bahkan ada ujian yang dirasa amat berat seolah tak sanggup lagi menanggungnya. Dalam keadaan seperti itu kadang tercetus pandangan negatif kepada Allah SWT. atas ujian yang Ia berikan.

Perasaan berat juga terkadang dirasakan oleh Rasulullah saw. dalam menghadapi ujian dakwah. Namun demikian Allah SWT. mengingatkan Beliau bahwa kondisi yang sama  — hidup penuh ujian – juga dialami oleh para nabi dan rasul yang ditugaskan menyampaikan risalah Allah. FirmanNya:
    “dan Sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. tak ada seorangpun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. dan Sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita Rasul-rasul itu.”(QS. al-An’am: 34)

Dalam ayat di atas Allah Ta’ala memotivasi diri Nabi saw. untuk senantiasa bersabar dengan membandingkan derita Beliau dengan derita yang dialami para nabi dan rasul sebelumnya. Nabi Yusuf as. misalnya, harus dijebloskan ke dalam sumur, dijual sebagai budak, difitnah akan melakukan pemerkosaan dan ditahan di dalam penjara dalam waktu yang lama. Tapi ketabahan dan kegigihan Beliau as. berbuah manis.

Nabi Nuh as. harus menahan derita dihina kaumnya bahkan keluarganya. Lalu dicap orang gila karena merakit kapal di atas bukit. Dengan kekuasaan Allah, ketegaran Nabi Nuh as. juga mendatangkan pertolongan dan kehancuran bagi kaumnya.

 “Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, Maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan Dia sudah pernah diberi ancaman).”(QS. al-Qamar: 9)

Nabi Ibrahim as. dibakar hidup-hidup, Nabi Ayub mendapatkan ujian kematian anak-anyaknya dan penyakit berat yang dideritanya, Nabi Musa terusir dari negerinya, Nabi Isa dikejar-kejar dan mengalami ancaman pembunuhan. Tidak ada satu pun para Nabi utusan Allah yang dibiarkan hidup tanpa ujian penderitaan yang berat. Dan tingkat penderitaan mereka jauh lebih tinggi dibandingkan manusia biasa. Rasulullah saw. pernah ditanya, “Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab;

    الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ

    “Para nabi, kemudian yang serupa, lalu yang serupa, maka seseorang diuji berdasarkan tingkat dien-nya.” (HR. Tirmidzi).

Keikhlasan dan kesabaran para nabi dalam menghadapi ujian membuahkan kemuliaan bagi diri mereka. Nama mereka menjadi tercatat dalam kitab suci dan selalu dikisahkan berulang-ulang oleh banyak orang. Menjadi teladan bagi siapa saja yang tengah mengalami ujian. Ada perbandingan dalam membangun kesabaran.

Bila kita ingin juga dicatat oleh Allah sebagai orang-orang yang mulia, maka teladanilah ketegaran para nabi dan rasul tersebut. Ambil saja kisah salah satu dari mereka, pelajari dan renungkan. Maka kita akan merasa bahwa musibah yang menimpa kita belumlah seberapa dibandingkan apa yang telah menimpa mereka. Sebagaimana Rasulullah saw. kembali bersemangat setelah dihibur oleh Allah dengan kisah-kisah para pendahulunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.