Rabu, 09 Mei 2012

Mossad dan Agen Rahasia Indonesia


Agen rahasia, kadang-kadang disebut mata-mata, intel atau informan. Di benak kita dulu jika ada agen rahasia, maka yang terbayang sosoknya adalah James Bond, si 007 dari badan intel M16 Inggris. Perayu ulung yang agak kocak, jago berkelit (dan berantem) dengan senjata canggih.
Agen rahasia yang dikenal anak-anak adalah di film cartoon Totally Spies, Kim Possible, Ben 10 dan Tin-Tin.  Sosok yang jauh dari kesan angker maupun menakutkan.
Menyebut agen rahasia zaman modern ini, maka yang dikenal bukan seperti sosok James Bond roger Moore lagi, tetapi lebih mirip ke Daniel Craig, yang lebih sadis dan tega dalam membunuh. License to Kill yang dimiliki agen rahasia, jauh dari bayangan sosok hero yang ada di benak fantasi anak-anak.
Mossad, yang kebetulan dalam bahasa Hokkian dapat diartikan sebagai ‘mo sat’; membunuh secara diam-diam, merupakan badan agen rahasia yang paling disorot, selain CIA dan KGB. Jika CIA, KGB dan M16 lebih banyak dikenal orang, mungkin karena dipopulerkan oleh film-film Hollywood, maka Mossad lebih kontroversial karena cuma dikenal di dalam buku sejarah dan media. Terakhir media nasional Kompas, yang selama beberapa hari memuat sepak terjang agen Mossad dalam membunuh tokoh Hamas.
Di film Hollywood, Munich; digambarkan agen-agen Mossad adalah manusia yang sangat ketakutan saat harus membunuh, sayang pada keluarga dan setia pada negara. Gambaran pembunuh berdarah dingin, ataupun agen yang profesional sirna, apalagi kalau dibandingkan dengan cerita-cerita di buku-buku dan media tentang sosok agen rahasia dan sepak terjang Mossad yang legendaris.

Entah disengaja atau tidak, film Munich menampilkan sisi manusiawi sang agen rahasia. Seperti halnya film Bourne trilogy, yang menggambarkan agen CIA yang walaupun sangat sadis ketika harus membunuh, setidaknya ada sisi humanisme bahwa sang agen yang diperankan oleh Matt Damon adalah manusia yang baik, bisa jatuh cinta dan yang terpaksa membunuh karena tugas negara.
Gambaran-gambaran di atas adalah persepsi yang tergantung dari sisi mana kita melihat. Manusiawi atau tidak, profesional atau amatir, semuanya tergantung dari hasil akhir, tugas yang diemban berhasil dituntaskan atau tidak.  Soal sisi romantisme, atau rasa bersalah setelah membunuh adalah pernik-pernik kehidupan seorang agen.
Bagaimana kabar agen rahasia Indonesia? Apakah seperti sosok James Bond zaman dulu, atau seperti Jason Bourne, atau bahkan seperti Mossad?  Kasus Malari, Woyla, Tangjung Priok, Kerusuhan Mei 1998 serta Kasus Munir apakah merupakan perbuatan intelijen? Apakah amatir (karena terbongkar) atau merupakan suatu tugas dari Negara?
Dibandingkan dengan cerita-cerita kisah intelijen di masa lalu, dan kisah intel Kopassus di buku tentang Kopassus, apakah ada penurunan kualitas?  Penangkapan agen rahasia Uni Soviet di Jakarta saat bertransaksi beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa Indonesia juga merupakan lintasan permainan dan target beroperasi agen rahasia mancanegara.
Belum lagi buku tentang Economic Hitman karangan John Perkins, kegagalan operasi CIA yang kata pengantarnya disampaikan oleh jurnalis kawakan Budiarto Shambazy, menunjukkan bahwa agen rahasia itu ada di mana-mana. Risalah yang menuduh bahwa Adam Malik diduga merupakan agen asing, dokumen lama di masa Orde Lama dan tertangkapnya agen CIA di Bogor baru-baru ini, merupakan suatu bukti dan pembelajaran bahwa Indonesia perlu memperkuat agen rahasianya, kalau perlu dengan belajar dari Mossad ataupun agen terbaik yang ada di dunia, jika tidak ingin terlindas oleh zaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.