Rabu, 24 April 2013

Antara Monumen Arjumand Begum & Bilik Humairo’



Mengerti maksud judul di atas? Ya, di judul itu ada dua nama. Arjumand Begum dan Humairo’. Ini dua nama yang berbeda dan hidup di abad yang juga berbeda. Mereka terpaut sekitar 1000 tahun.

Tetapi keduanya memiliki kesamaan.

Keduanya sama-sama wanita. Keduanya mendampingi orang besar dalam sejarah. Arjumand Begum istri dari Shah Jehan (raja di Dinasti Mogul, India) dan Humairo’ adalah Aisyah radhiallahu anha. Ya, istri Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam(pasti, Rasulullah lebih besar dan Shah Jehan). Bahkan keduanya sama-sama istri ketiga (menurut sebagian ulama’, Aisyah adalah istri ketiga setelah Khadijah dan Saudah radhiallahu anhuma).
Nah, judul di atas sudah bisa dipahami kan…Monumen Arjumand Begum dan Bilik Humairo’.

Ada apa dengan keduanya. Dan pelajaran apa yang bisa kita ambil untuk keluarga kita.

Begini…

Dunia sangat mengenal bangunan yang dianggap sebagai salah satu situs warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO. Gedung megah menjulang yang menjadi salah satu tujuan wisata di India. Taj Mahal, namanya.

Taj Mahal diyakini sebagai monumen cinta. Lambang cinta sejati. Dari Shah Jehan untuk Mumtaz Mahal alias Arjumand Begum.

Bukti cinta Shah Jehan diabadikan dengan bangunan megah yang masih kokoh berdiri hingga hari ini. Disebutkan bahwa monumen cinta itu dibangun selama 22 tahun (1631 – 1653 M). 20.000 pekerja dilibatkan untuk membangunnya.

Begitulah cinta. Bahkan ketika Shah Jehan meninggal, ia dimakamkan di samping istrinya. Kisah cinta yang syahdu dan mahal.

the prophet houseSementara bilik Aisyah,

As Samhudi menyebutkan ukuran bilik Aisyah radhiallahu anha:

Panjangnya dari timur ke barat arah Kiblat adalah 10 lebih dua pertiga Dziro’ (4,8 M), arah Syam sepanjang 10 Dziro’ lebih seperempat dan seperenam Dziro’ (4,69 M). Lebarnya dari utara ke selatan arah timur dan barat adalah 7 Dziro’ lebih setengah dan seperdepalan Dziro’ (3,43 M).

Nabi membangunnya dari bata dan batang Pohon Kurma. Ada di samping masjid.

Itulah keseluruhan rumah wanita mulia ini. Bersama sang suami, manusia paling mulia di muka bumi; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Melihat ukurannya, lebih layak di sebut bilik daripada rumah.

Dan hari ini masih bisa kita lihat ukurannya walaupun sudah dipugar. UNESCO jelas tidak berminat untuk mengabadikannya. Karena hanya bilik. Berbeda dengan Taj Mahal.

Tapi bilik ini menyimpan berbagai nilai agung sebuah rumah tangga. Andai kita bisa memahami ‘suara’ dindingnya, kita akan mendengarkan kisah cinta terindah sepasang anak manusia. Ia menjadi saksi kebersamaan 10 tahun itu. Dan benar hanya kematian yang memisahkan SEMENTARA cinta keduanya. Sebelum cinta itu kembali disatukan dalam damai dan bahagia yang sesungguhnya dan abadi di surga nanti.

Dinding menjadi saksi akan senyum manis penyambut kedatangan. Ia menjadi saksi akan bincang malam penuh kasih. Ia menjadi saksi akan cengkerama hingga di kamar mandi. Ia menjadi saksi akan kecemburuan penghangat suasana. Ia menjadi saksi akan kecupan ringan sebelum ke masjid.

Dan ternyata kisah bilik Aisyah lebih kita kenali dan lebih abadi.

Bilik Aisyah bukan monumen Arjumand…

Bilik Aisyah mengajari kita akan cinta yang sederhana. Tak perlu monumen untuk menumbuhkannya.Tak perlu monumen untuk menyegarkannya. Tak perlu mahal untuk mengabadikannya.

Hanya perlu sebuah bilik penuh cinta.

Sumber: Parentingnabawiyah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.