Rabu, 23 Januari 2013

Bani Israil, Bangsa Nomaden yang Hidup dari Konspirasi ke Konspirasi



Bani Israil, Bangsa Nomaden yang Hidup dari Konspirasi ke Konspirasi
Bani Israil merupakan kaum pembunuh para nabi, bahkan dalam suatu kisah, kaum Yahudi ini dikatakan telah membunuh 300 nabi Allah yang berasal dari kaumnya sendiri. Mereka bunuh Nabi Zakaria as  dengan dibelah dari atas kepala dan seluruh badannya hingga menjadi dua. Mereka juga memenggal kepala Nabi Yahya as, serta mencoba membunuh Nabi Isa as.

Bani Israil juga berniat mencelakai Nabi Musa as. Mereka berupaya membunuh Nabi Yusuf as. yang diceburkan ke dalam sumur. Seterusnya mereka juga melakukan percobaan pembunuhan terhadap Rasulullah Saw. Tidak salah jika dikatakan bahwa kaum Yahudi adalah kaum pembunuh para nabi.
Tabiat Yahudi yang selalu cenderung memusuhi jalan ketauhidan, memerangi para Nabi Allah, menjadikan kaum ini sahabat bagi iblis. Sejak membangkang perintah Allah SWT agar semua mahluk bersujud kepada Adam as, iblis kemudian menggoda Hawa agar membujuk Adam supaya mau memakan buah khuldi yang dilarang Allah SWT. Iblis diberi hukuman agar meningalkan surga dan berkelana di bumi hingga hari akhir.
Iblis pun meminta izin agar selama hayat manusia, iblis diperbolehkan untuk menyesatkan umat manusia keturunan Adam dari jalan ketauhidan hingga akhir zaman. Iblis memperoleh izin untuk itu. Sejak itulah, terjadi pertentangan di bumi ini antara pasukan Allah (al-haq) melawan pasukannya iblis (al-bathil).

Bani Israil yang selalu saja memusuhi para Nabi Allah tentunya masuk ke dalam barisan pasukan iblis. Kaum ini sejak awal telah mendurhakai Musa as dan lebih memilih Samiri —tukang sihir Kabalis—sebagai pemimpinnya. Kecenderungan Bani Israil kepada ilmu sihir dan segala hal yang bernuansa kegelapan yang sesungguhnya berasal dari ajaran iblis yang diwarisi kelompok-kelompok purba penyembah api dan ular (Brotherhood of the Snake), menjadikan Bani Israil sebagai bagian dari kelompok tersebut.

Taurat Musa mereka rusak dan mereka buang. Mereka kemudian menggantinya dengan kitab Talmud, sebuah kitab hitam yang banyak melecehkan para Nabi dan Allah SWT. Mereka meyakini Talmud lebih suci dan lebih utama ketimbang Taurat Musa.

Ideologi Talmud inilah yang di kemudian hari melahirkan gerakan Zionisme. Anda bisa melihat faktanya saat berlangsung perang antara Zionis-Israel melawan Hizbullah 2006 lalu. Beredar foto-foto di berbagai media dunia yang memperlihatkan betapa para tentara Zionis selalu mendaras Talmud saat melakukan serangan atau pemboman musuh-musuhnya.

Setiap melakukan perang, kaum Yahudi Talmudian ini selalu saja membawa Talmud dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa peperangan yang tengah mereka lakukan adalah peperangan suci yang meninggikan ajaran Lucifer, Sang Iblis. Sosok yang oleh kaum Yahudi Talmudian dianggap sebagai “Cahaya di atas Cahaya” dan untuk menghancurkan musuh-musuh iblis itu
sendiri.

Kejahatan Terorganisir

Kaum Yahudi Talmudian merupakan kaum yang berada di dalam barisan iblis, di dalam kebathilan. Ini sudah jelas dan tak terbantahkan. Hanya saja, kaum Yahudi memiliki sejumlah kelebihan dibanding kaum lainnya. Banyak kalangan menganggap kaum Yahudi adalah ras manusia super yang diberi kelebihan genetis berupa otak yang lebih encer ketimbang manusia lainnya.

Hal ini sesungguhnya tidak berdasar sama sekali. Yang terjadi sesungguhnya bukanlah keistimewaan genetis, namun keistimewaan berpikir kritis dan tradisi yang mereka pelihara sepanjang sejarah. Mereka adalah bangsa yang memang ditakdirkan untuk mengembara dari satu daerah ke daerah lainnya.

Ibrani, sebutan lain bagi kaum Yahudi, berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti "selalu berpindah tempat” atau secara harfiah berarti “kaum yang menyeberang." Ini dikemukakan Dr Wilson yang menyatakan bahwa istilah ‘Ibrani’ lebih tepat dinisbatkan kepada asal-muasal bangsa Yahudi itu sendiri.

Bangsa Israel pada dasarnya adalah bangsa nomaden yang hidup di padang pasir dan tidak menetap di suatu tempat. Mereka selalu berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan membawa serta ternak, onta, dan binatang-binatang peliharaannya, guna mencari tempat yang cukup banyak air dan rumput.

Sebab itu, istilah ibri sesungguhnya lebih tepat berasal dari bahasa Arab yang berbunyi ‘a-ba-ra’ yang memiliki pengertian melakukan perjalanan dengan menyeberang lembah atau sungai"  demikian Dr. Wilson (Tarikh al-Lughat al-Samiyah). “Kalimat ibri itu sendiri sama artinya dengan istilah ‘badawi’ (badui) dalam bahasa Arab,” terangnya.

Sejarawan Charles Kent dalam History of The Hebrew People mengatakan jika kondisi internal bangsa Ibrani tersebut menyebabkan mereka secara turun-temurun merasakan adanya rasa keterasingan lalu menjadikan mereka sebagai bangsa yang tertutup, dan selalu mencurigai orang-orang di luar mereka sepanjang sejarah, serta menjadikan bangsa-bangsa lain di sekitarnya sebagai musuh.

Ini menyebabkan mereka  tidak mengikatkan loyalitasnya kepada tanah atau negeri yang menyatukan mereka dengan bangsa-bangsa lain. Loyalitas mereka hanya ditujukan kepada kelompoknya saja, maka jadilah kelompok tersebut, tanah air dan agama mereka yang selalu disucikan. Sebab itulah, mereka sangat kuat memegang sejarah kaumnya dan selalu belajar dari sejarahnya.

Hal ini tidak dimiliki oleh kaum lainnya, termasuk umat Islam yang secara ironis, sekarang ini mengalami kekalahan peradaban di pentas dunia. Dengan sangat rapi, terorganisir, dan ulet, kaum Yahudi menguasai simpul-simpul kekuatan duniawi hingga sekarang. Ini dilakukan mereka dari generasi ke generasi sepanjang abad dan millennium.

Dari konspirasi ke konspirasi lainnya, dari peperangan ke peperangan lainnya. Inilah kelebihan mereka, yang berpegang pada ajaran Iblis namun bisa mengorganisasikan diri dengan sangat baik sehingga dewasa ini mereka bisa mencengkeram dunia dengan kuku-kukunya yang menjangkau semua negeri. Bagaimana dengan kita? Wallahu a’lam bisshawab. (sabili)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.