Selasa, 30 Oktober 2012

Masuk Surga Bareng Edison



"Kyai, surga itu bukan khusus untuk orang Islam. Dia milik semua umat."
"Ane percaya. Kan setiap agama, memang punya konsep soal surga masing-masing."
"Bukan gitu maksud saya. Asalkan manusia itu baik, banyak jasanya pada kemanusiaan, dia berhak masuk surga."
"Tapio dalam Islam engga gitu. Dia harus beriman pada Allah dan tentu harus beriman kepada kerasulan Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam."
"Nah, itu cara berpikir eksklusif. Islam itu inklusif, Kyai. Bagi saya yang berpaham inklusif, setiap orang baik, apapun agamanya, dia bisa masuk surga."

"Ya monggo. Bagi saya tidak begitu. Baik saja tidak cukup jika tanpa iman kepada Allah dan Rasulillah seperti tercermin dalam makna syahadat."
"Surga itu hak Allah, Kyai. Kita tidak pantas mengkavling-kavling soal surga, dengan faham kita yang merasa sok paling benar. Bagi saya muslim humanis inklusif, Thomas Alfa Edison itu berhak masuk surga bareng Muhammad. Jasa Edison menmukan lampu, sudah dinikmati bermilyar-milyar manusia. Masa orang sebaik dan sebesar jasanya seperti ini harus masuk neraka? Engga asik banget gitu."
"Ane stuju surga itu hak Allah seperti kata sampeyan."
"Guud. Emang gitu seharusnya sikap kita yang rahmatan lil 'aalamiin."
"Lha kalo gitu, atas izin siapa sampeyan bisa ngomong Thomas Alfa Edison masuk surga bareng Nabi Muhammad? Apa sampeyan sudah ngomong sama Allah?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.