Kamis, 28 Juni 2012

Membiarkan Papua merdeka?


Berita mengejutkan tayang di situs Indonesia Today. Ulil Abshar Abdalla bilang "Biarkan Saja Papua Merdeka".  Tokoh yang pernah menjadi orang nomor satu dan icon Jaringan Islam Liberal ini dengan enteng mengatakan "biar saja Papua meredeka".  Seakan pengorbanan para pahlawan yang berjuang merebut Irian Barat (sebagaimana disebut saat itu) tidak ada arti dan harganya sama sekali dalam pandangan orang tersebut.

Siapapun yang pernah mempelajari sejarah kemerdekaan Indonesia pasti tahu, minimal secara umum, perjuangan merebut Irian Barat. Betapa banyak pahlawan yang gugur dalam beberapa operasi militer seperti operasi Trikora dan Pertempuran Laut Aru yang mengakibatkan hancurnya KRI Matjan Tutul. Apakah layak seorang liberal dengan enteng melontarkan pendapat "biarkan saja Papua lepas dari Indonesia" tanpa memperhitungkan pengorbanan para pahlawan tersebut?
Permasalahan Papua memang rumit, namun akarnya sudah jelas, ketidakadilan di berbagai bidang terutama ekonomi. Perusahaan-perusahaan penambangan asing dengan enaknya mengeruk kekayaan alam Papua sementara rakyat di sana masih berbaku hantam dalam bentuk Perang Antar Suku. Rakyat Papua hingga hari ini masih banyak yang terbelakang, miskin dan primitif. Mungkin tradisi perang antar suku itu memang sengaja dipelihara agar kekayaan alam Papua bisa dikeruk dengan mudah. Ketidakadilan itu sendiri berawal dari lemahnya ketegasan pemerintah dalam menghadapi intervensi asing, terutama dari Barat khususnya Amerika Serikat. Ditambah lagi dengan merajalelanya korupsi di berbagai bidang, termasuk di tubuh partai si Ulil sendiri. Semua itu semakin membenarkan kebenaran pepatah lama di Indonesia, "Kuman di seberang lautan kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak tampak". Orang-orang liberal yang mulutnya berbusa-busa menyerukan kebebasan ternyata malah menjerumuskan Indonesia ke dalam penjajahan moderen yang jauh lebih mengerikan daripada penjajahan era kolonial. Jika benar Papua merdeka dan lepas dari NKRI, apakah rakyatnya bakal sejahtera? Belum tentu. Bahkan mungkin malah semakin menderita karena kapitalis pengeruk sumber daya alam di sana jelas bukan kaum filantropis yang peduli pada sesama. Mereka hanya peduli pada kepentingan ekonominya sendiri, masa bodo pada kesejahteraan dan kepentingan orang lain.

Entah kenapa sepertinya salah satu ciri khas orang liberal adalah menggampangkan masalah dan meremehkan orang lain. Betapa pedihnya perasaan para pahlawan yang sudah berjuang berdarah-darah dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari bangsa-bangsa penjajah jika mereka tahu betapa entengnya lisan orang liberal melecehkan dan menghinakan perjuangan mereka. Lontaran-lontaran pendapat khas orang-orang liberal itu memang sangat pas dengan definisi Rasulullah tentang kesombongan. “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.