Kamis, 29 November 2012

Selama Agresi…Media Palestina Secara Profesional Goyang Media Israel



Media Palestina goyang jaringan media Israel selama agresi terakhir ke Gaza, dan berhasil mencapai sasaran melansir capaian perlawanan.

Sementara media yang kalah tidak mampu berperan dengan sportif, dan gagal merealisir tujuan.

Menurut pengamat masalah Israel, Naji Battah, media Israel gencar menggelar perang media, sebab mereka melihat media sebagai bagian dari hirarki perang saat pertikaian berlangsung.
Media dengan tiga bagiannya, yang dibaca, dilihat dan didengar, menjadi sasaran Israel selama agresi terakhir ke Gaza, untuk menghancurkan semangat rakyat Palestina dan perlawanannya, serta mengangkat spirit pasukan Israel, media Israel sama sekali tidak demokratis, melainkan tunduk kepada pengawasan militer.
Di lapangan, sejumlah media Arab melakukan perannya, sementara media Israel kehilangan kemampuan menembus opini public internasional, karena itu media Israel dalam opini internasional bahkan internal Israel sendiri mengalami kemunduran, sebab masyarakat Israel lebih percaya kepada perlawanan dibandingkan informasi yang dirilis media mereka sendiri, sambung Battah.

Selama agresi, menurut pengamat ini, media Palestina sudah matang dan selaras dengan garis perlawanan dalam membela bangsanya, dan membongkar kejahatan Israel terhadal anak-anak, para wanita dan orang tua, yang sangat bertentangan dengan standar minimum internasional.

Battah menyebutkan statmen Jendral Israel saat agresi pertama ke Gaza tahun 2008/2009 lalu, yang menyatakan, “Seandainya media Palestina saat ini ada tahun 58, pasti Israel tidak akan berdiri.”

Selama 8 hari agresi Israel ke Gaza, penjajah Israel melakukan sejumlah pembantaian keji, sebuah keluarga menjadi korban seluruhnya, dan menyerang sejumlah komplek perumahan sipil, menyerang jembatan, pos keamanan, lahan pertanian dan kantor pemerintahan.

Dosen komunikasi di Universitas Islam Gaza, Dr. Jawad Dalwu menyebutkan, media Palestina pada agresi lalu telah melakukan peranan sempurna, dan meraih kemenangan atas media Israel, seperti halnya kemenangan perlawanan atas militer Israel.

Peran media Arab dalam agresi ini tidak seperti agresi sebelumnya, dan media Palestina menjadi rujukan utama bagi segenap media Arab dan internasional.

Menurut Dalwu, peran TV Al-Aqsha sangat menonjol, dua dari crewnya gugur, dalam menginformasikan peristiwa agresi ke level internasional.

Seperti koferensi pers yang dilakukan Jubir Al-Qassam, Abu Ubaidah, dan pesan yang disampaikan pimpinan Al-Qassam, Muhammad Dhaif, sangat berpengaruh besar dan menggentarkan semangat musuh.

PM Palestina di Gaza, Ismail Haniyah menyampaikan apresiasi terhadap kerja media selama agresi terakhir ke Gaza, peran mereka sangat besar dalam menyoroti kejahatan Israel.

Wahai para jurnalis, kalian adalah para pejuang, kalian bergerak di bawah serangan pesawat tempur untuk menyampaikan informasi. Media Palestina mencatatkan diri bagi kemenangan perlawanan secara militer, politik dan juga media menghadapi penjajah Israel selama agresi, ungkap Haniyah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.